Gali Resep Budidaya Udang dari Negeri Ginseng dan Gajah Putih

0
2

LAMPUNGPAGI.NET — Berbagai hambatan dan tantangan dalam budidaya udang terus bakal membelit para pembudidaya udang di Tanah Air. Tidak saja, ancaman penyakit yang makin beragam, juga biaya produksi yang terus meningkat, sementara harga jual diprediksi merosot seiring pulihnya produksi udang Thailand dan banjirnya udang ke pasar global. Untuk itu, perlu dilakukan efisiensi biaya produksi dengan menggunakan pakan rendah protein dan mengadopsi trik pencegahan penyakit yang dilakukan di Thailand.

Demikian benang merah seminar pencegahan dan penanganan penyakit udang yang digelar Forum Komunikasi Praktisi Aquakultur (FKPA) Lampung di Hotel Emersia, Bandar Lampung, Jumat (22/2).

Tampil menjadi narasumber Prof. Jeong-Dae Kim, Ph.D, pakar nutrisi aqua feed dari Universitas Nasional Kangwon Korea; Grin Swangdacharuk, MS, technical manager Asia Pasifik Lanxess; dan Dr. Kukuh Nirmala, dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB.

Prof. Jeong-Dae Kim yang tampil pertama menyatakan, bahwa pertumbuhan sektor akuakultur di Indonesia akan tidak leluasa jika pakannya tetap bergantung pada tepung ikan dan minyak ikan. Apalagi trend harga jual udang terus merosot seiring banjirnya pasokan udang ke pasar global sebagai dampak pulihnya udang Thailand dan tingginya produksi udang India.

“Jadi, industri ini harus mencari solusi untuk meningkatkan penggunaan bahan-bahan lokal dan mengurangi ketergantungan pada komoditas impor, untuk pakan ikan mencapai 65 persen, dan untuk pakan udang mencapai 90 persen,” ujar pembicara di depan sekitar 300-an peserta seminar yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Solusi lainnya yang ditawarkan profesor adalah melalui pakan rendah protein yakni hanya 20 persen, jauh di bawah protein pakan yang saat ini beredar yakni rara-rata 30 persen.

Terdapat sejumlah keunggulan pakan rendah protein. Selain tidak perlu penambahan karbon ke dalam kolam sehingga menekan biaya pakan, namun pertumbuhan udang tetap optimal. Lalu dengan menggunakan pakan rendah protein, kualitas air juga tetap terjaga.

Pembicara lainnya Dr. Kukuh Nirmala menekankan sejumlah kiat untuk mencegah penyakit. Diantaranya, minimalisasi kadar nitrit, menjaga keseimbangan bakteri dan plankton serta memenuhi kebutuhan mikro mineral.

Menurut pakar lingkungan ini, dari hasil penelitiannya di Maros, Sulawesi Selatan tahun 2016 silam, ada hubungan antara kadar nitrit dengan Myo. Ketika kadar nitrit tinggi, muncul Myo. Kenapa nitrit tidak dioksidasi menjadi nitrat? Karena bakteri tidak berkembang. Penyebabnya, terjadi kekurangan mineral. Selama ini pembudidaya hanya fokus pada pemberian mineral makro dan kurang memperhatikan mineral mikro.

“Mineral mikro sangat dibutuhkan udang, namun dalam jumlah yang sedikit. Jika berlebih maka akan menjadi racun,” ujarnya pada seminar yang dibuka Pembina FKPA Merri Warty yang memberi sambutan dan Agusri Syarief yang memukul gong.

Dari mana mineral mikro diperoleh? “Sebetulnya sudah terdapat di dalam air kolam dan sedimen untuk kolam tanah. Namun karena jumlahnya minim maka perlu asupan dari luar,” lanjutnya.

Sementara Grin Swangdacharuk, MS memaparkan kiat yang dilakukan pembudidaya Thailand untuk pulih dari wabah EMS. Di antaranya, dengan menurunkan kepadatan tebar benur, seleksi ketat benur yang diikuti dengan pendederan, dan menurunkan salinitas saat penebaran benur.

Kiat lainnya adalah dengan membangun tandon yang cukup, persiapan yang benar-benar matang dan waktu yang cukup untuk persiapan kolam dan memperhatikan kebersihan dan desinfeksi sebelum penebaran benur. “Meminimalisasi stres benur saat pengangkutan, mengoptimalkan kebersihan lingkungan saat transportasi dan menerapkan desinfeksi atau probiotik guna menekan vibrio,” tutur praktisi aquakultur ini.

Kecuali itu, pembudidaya juga melipatgandakan aerasi, meminimalisasi zat-zat organik di dasar kolam dan kontrol pakan yang ketat. Volume pakan yang ditebar lebih sedikit, tetapi frekwensi pemberiannya lebih sering.

Seusai pemaparan para narasumber, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi dan diakhiri dengan penyampaikan konklusi oleh Sekjen Masyarakat Aquakultur Indonesia (MAI Dr Agung Sudaryono.

Pada kesempatan tersebut, Agung mengajak segenap pemangku kepentingan untuk bersemangat dan tetap optimis meski hambatan dan tantangan budidaya makin berat. Seperti makin beragamnya penyakit, banjirnya udang di pasar global menyusul pulihnya produksi udang Thailand dan tingginya produksi udang India sehingga menekan harga ekspor.

Ia juga minta para pembudidaya untuk memperhatikan hal-hal nonteknis dalam menjalankan budidaya, seperti kewajiban mengeluarkan zakat, sedekat dan berbagi dengan para karyawan dan lingkungan. (T. Syahril)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here