Dinas Kesehatan, IDI dan Jurnalis Metro Sosialisasi DBD

0
2

LAMPUNGPAGI.NET — Dinas Kesehatan Kota Metro melaksanakan Sosialisasi Demam Berdarah Dengue (DBD) Bersama Jurnalis,baik dari Media Online,Media cetak dan Media elektronik kota Metro yang berlangsung di Aula Rapat Dinas Kesehatan setempat pukul 13.00 Wib, Senin(19/02/2019).

Sosialisasi DBD tersebut merupakan keterbukaan informasi Publik melalui PPID/Pejabat pengelola informasi dan Dokumentasi Dinas Kesehatan Kota Metro tentang DBD yang saat ini tengah merebak dimoderatori oleh Kasubag Informasi dan Program Erliyanti,S.Pd,MKM.

Plt.Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro dr.Silfia Naharani,MM dan Ketua IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Kota Metro dr.Agung Budi Setiyono,Sp.PD,.M.Kes sebagai Narasumber pada Sosialisasi DBD dengan peserta Sosialisasi adalah Jurnalis di Kota Metro.

Pemaparan sosialisasi DBD (Demam Berdarah Dengue), Penyakit DBD, dan penyebab DBD disampaikan oleh Plt.Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro dr.Silfia Naharani,MM

“Penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue sangat mudah dan harus kita Waspadai, oleh karena nya sosialisasi hari ini merupakan kolaborasi bentuk koordinasi bersama siapa saja dari semua elemen, baik tingkat kota, lintas sektor untuk mengetahui apa itu DBD (Demam Berdarah Dengue),” ujar nya.

“Hari ini ada nya sosialisasi dan koordinasi pencegahan, dan penanganan dengan penyebaran virus DBD di kota Metro, DBD menjadi trending topik dan menjadi perhatian utama dan keseriusan dinas kesehatan kota Metro untuk penanganan dan pencegahan Virus DBD tersebut,” ucap dr.Silfia

Dijelaskan nya, infeksi Dengue merupakan penyakit sistemik dan dinamik, dimana memiliki spektrum klinik yang luas meliputi manifestasi klinis baik berat dan non berat. setelah masa inkubasi, penyakit dimulai secara cepat dan tiba-tiba, diikuti oleh tiga fase yaitu demam,Kritis dan pemulihan.

Selanjutnya cara nyamuk Aedes aegypti menyebarkan virus DBD terlebih dahulu mengigit penderita DBD dan menularkan nya kepada yang lain melalui gigitannya secara berpindah oleh nyamuk Aedes aegypti tersebut. Peningkatan kasus DBD terjadi pada bulan Oktober – November atau pada awal musim hujan ,di Kota Metro tahun 2018 terdapat 59 kasus penderita DBD dan pada tahun 2019 ini terdapat 94 positif DBD dan -1 orang meninggal dunia.

“Ada Empat tren pada virus tersebut berkembang yaitu di air bersih yang terdapat di kaleng bekas, ban bekas, pot air, pelepah daun dan lainnya. Temukan jentik nyamuk Aedes aegypti, selagi masih ada jentik nyamuk tidak ada putus perkembangan nya, dan lakukan 4 M Plus yaitu menguras, menutup, mendaur ulang, dan memantau jentik Plus menggunakan Larvasida/Abate, memelihara ikan, menggunakan kelambu/kawat kasa, pakaian panjang mencegah gigitan, mengoleskan refelant, menyemprot ruangan,” terang dr.Silfia.

Dalam kesempatan tersebut, Plt.Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro dr.Silfia Naharani,MM menyampaikan dengan melalui Promotif dan ada tindakan preventif yang di lakukan pelayan kesehatan untuk mensosialisasikan bahaya virus Demam Berdarah Dengue Aedes aegypti, sudah sejauh itu kita lakukan,” ujar dr.Silfi.

hipotesa terkait dengan promotif dan penanganan preventif, berusaha 24 jam untuk melakukan penanganan dan memberikan pelayanan kepada Masyarakat kota Metro. Masyarakat harus sadar oleh virus DBD dengan penanganan lebih awal akan mendapatkan pelayanan kesehatan yang ada di kota Metro. kita harus waspada, dan cepat datang ke tempat pelayanan kesehatan, lebih peduli dan memperhatikan gejala demam tersebut agar jangan sampai terlambat mendapatkan penanganan di sarana pelayanan kesehatan Masyarakat,”Jelas dr.Silfia.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Cabang Metro dr.Agung Budi Setiyono,Sp.PD.,M.Kes memaparkan Dengue Haemorrhagic Fever (DHF).

“DHF -DBD infeksi tropika endemik di Indonesia, 1994 incidence rate 9,7 per 100.000 penduduk. 2004 kejadian luar biasa incdence kematian sebanyak 724 orang. Ada 2 penyebab kematian utama , pemeriksaan penyaring yang kurang ketat, keterlambatan pasien datang ke Sarana pelayanan kesehatan,” ujar nya.

Dijelaskan nya, membedakan demam virus dan demam berdarah dan kenapa ada demam seperti itu dikarenakan yang satu ada manifestasi berdarah dan hanya demam dan terjadi lebam, sedangkan untuk DBD itu sendiri ada bintik merah yang tidak hilang, dan sampai pada pendarahan hidung dan mulut,” ucap dr.Agung.

Menurut pemaparan nya, beberapa faktor peningkatan transmisi virus Dengue yaitu vektor, berkembang biak nya vektor kebiasaan menggigit, kepadatan vektor di lingkungan, transportasi vektor dilingkungan, transportasi vektor dari tempat satu ke tempat lainnya, serta pejamu nya terdapat penderita DBD dilingkungan atau keluarga, mobilisasi dan paparan terhadap nyamuk, usia dan jenis kelamin, selain itu pada lingkungan perkembangan nya dengan curah hujan, suhu, sanitasi, dan kepadatan penduduk,” jelas nya.

Selanjutnya Ketua Ikatan Dokter Indonesia Kota Metro tersebut mengatakan pemeriksaan laboratorium DHF/Dengue Haemorrhagic Fever meliputi leukosit, trombosit, hematokrit

“Leukosit dapat naik atau menurun, mulai hari ke 3 dapat ditemui limfositosis relatif (>45 % dari total leukosit) dengan adanya limfosit plasma biru (LPB) >15 % dari jumlah total leukosit yang pada fase syok akan meningkat. Sedangkan untuk trombosit, umum nya trombositopenia pada hari 3-8. Dan Hematokrit, kebocorannya plasma dibuktikan dengan ditemukannya peningkatan Hematokrit >20 % dari Hematokrit awal, umumnya dimulai pada hari ke 3 demam,”

Dijelaskan nya DHF adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue, sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti betina. Penyakit ini lebih dikenal dengan sebutan Demam Berdarah Dengue (DBD),” pungkas dr.Agung Budi Setiyono,So.PD.,M.Kes. (Ade Suhendra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here